Kebocoran Data eHAC Dinilai Mencoreng Nama Indonesia di Mata Dunia

Pakar keamanan siber Alfons Tanujaya menyayangkan, adanya kebocoran data dari aplikasi Indonesia Health Alert Card atau eHAC. Menurutnya, kebocoran data eHAC ini mencoreng nama Indonesia di mata dunia karena eHAC sendiri diwajibkan untuk diunggah setiap orang yang masuk ke wilayah Indonesia. Ia juga menilai, ini menjadi catatan merah bagi tim Informasi dan Teknologi (IT) Kementerian Kesehatan terkait adanya dugaan kebocoran data eHAC ini.

"Informasi yang ada pada eHAC merupakan data base, yang artinya harus diamankan dan ini merupakan data yang penting serta harus dilindungi," kata Alfons. Sebelumnya dikabarkan bahwa sebanyak 1,3 juta data yang ada di aplikasi eHAC diduga bocor. Kebocoran tersebut ditemukan peneliti vpnMentor Noam Rotem dan Ran Locar. Selanjutnya vpnMentor pun melaporkan hal tersebut, dan ditindaklanjuti oleh Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Data yang bocor ini diketahui merupakan informasi hasil tes Covid 19 termasuk nama orang yang melakukan tes.

Selain itu kebocoran data juga meliputi, nama rumah sakit tes Covid 19 rumah sakit, nomor antrean, tipe tes hingga waktu dan tempat tes. Kebocoran data eHAC yang lain yakni data 226 rumah sakit di Indonesia, meliputi nama, alamat hingga kapasitas rumah sakit. Selain itu, data penumpang yang isinya merupakan identitas, nomor dan foto paspor, nomor Kartu Tanda Penduduk Elektronik yang digunakan saat membeli tiket, hotel tujuan penumpang dan data tambahan lainnya pun ikut bocor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.